Jejak-jejak Sejarah di Kampung Jalawastu Kaki Gunung Kumbang - RADARDESA

TOP BERITA

Selasa, 19 April 2022

Jejak-jejak Sejarah di Kampung Jalawastu Kaki Gunung Kumbang


Brebes, Radardesa.com – Jalawastu adalah sebuah kampung/dusun di Desa Ciseureuh, bagian selatan Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kampung yang berada di kaki Gunung Kumbang atau Gunung Sagara ini kini telah menjadi salah satu tujuan wisata budaya (wisata adat) di kota bawang Brebes.

Hampir 145 kepala keluarga yang ada di kampung ini masih teguh menjaga tradisi leluhur mereka, dimana seluruh rumah warga dindingnya terbuat dari papan dan beratap seng.

Dibenarkan Serka Dasro selaku Babinsa setempat dari Koramil 15 Ketanggungan Kodim 0713 Brebes, bahwa memang tidak ada rumah warga yang berbahan semen, keramik, atau beratap genteng.

“Untuk atap rumah menggunakan seng, sementara lantainya menggunakan papan dan lantai bumi (tanah alami),” terangnya.

Lanjutnya, jarak Kampung Jalawastu dari Koramil sekitar 33 km, dalam waktu tempuh kurang lebih 55 menit jika tidak hujan. Di kampung ini juga ada wisata alami Curug Rambukasang, tempat pemujaan Huludayeuh (pohon besar) di Pesarean Gedong, tempat pemancingan, dan oleh-oleh hasil bumi berupa pete, durian, dan nangka.

Untuk mengakses Jalawastu dengan seluruh keunikan tradisi masyarakatnya dan keindahan pemandangan pegunungan, maka para pengunjung harus melalui jalanan yang naik turun berbatu. Karena letak di lereng bukit, Kampung Jalawastu menjadi daerah yang rawan longsor, mungkin inilah salah satu alasan leluhur mereka membuat rumah tanpa semen dan keramik untuk mencegah bencana.

Dulunya kedua bahan bangunan itu adalah barang mewah karena warga juga susah untuk mengangkat atau memikulnya dengan jarak berpuluh-puluh kilometer, sehingga akhirnya leluhur mereka menyebutnya dengan pamali.

Sementara untuk keramik dan genteng, sangat sulit diperoleh karena letaknya kampung yang jauh dari peradaban.

“Untuk menelpon kita harus mencari sinyal di spot-spot tertentu. Walaupun demikian, banyak mahasiswa UGM Yogyakarta yang KKN budaya kesini dan sudah menjadi salah satu agenda rutin mereka,” tandas Babinsa.

Kampung Jalawastu berada di pelosok, sehingga kehidupan masyarakatnya masih terisolasi dari dunia luar. Namun walaupun jauh dari peradaban modern, mereka tidak menutup kunjungan dari tamu luar dan malah menjadi agenda wisata.

“Untuk keyakinan, seluruh warga Jalawastu beragama islam. Kemudian mata pencaharian warga mayoritas adalah petani palawija dan perkebunan,” tandasnya.

Sementara dijelaskan lebih mendalam oleh Widodo (Kliwon) selaku pemangku adat setempat yang baru, warganya berbahasa Sunda walaupun kebanyakan berasal dari etnis Jawa.

Warganya juga juga memiliki pantangan-pantangan unik lainnya yakni dilarang untuk memelihara ternak seperti angsa, domba, dan kerbau dengan alasan dianggap mengotori lingkungan.

Kemudian dilarang menanam bawang merah karena nantinya akan merugi. Alasannya, selain lahannya tidak cocok juga karena udara di wilayah Desa Ciseureuh bisa sangat dingin disaat musim penghujan. Berbeda dengan di wilayah Brebes lainnya, adanya angin kumbang (jenis angin fohn) saat musim kemarau, hembusan angin yang cukup sejuk yang berasal dari lereng Gunung Kumbang ini sangat cocok untuk tanaman bawang merah dan cabe.

Larangan selanjutnya adalah pementasan wayang karena berkaitan dengan memainkan peran manusia.

“Tidak ada yang berani melanggarnya karena warga percaya akan mendapat musibah jika melanggar pamali itu,” tegasnya.

Mitos Dayeuh Lemah Kaputihan

Dayeuh Lemah Kaputihan yang berarti tanah suci tempat tinggal dewa-dewi. Letaknya berada di puncak Gunung Sagara dimana tempat ini sangat disakralkan bagi warga Jalawastu sehingga ada pantangan untuk tidak berkata kotor disana.

Menurut sejarah, mitos itu ada sejak zaman Hindu saat Raga Wijaya bertapa di Gunung Sagara/Kumbang. Jadi kesana ditempuh dengan jalan kaki selama kurang lebih 6 jam dari Kampung Jalawastu.

Saat ini masih ada saja yang kesana untuk melakukan pertapaan di Gedong Sirap untuk menambah ilmu. Sebelum ke Gedong Sirap, calon pertapa akan menemui juru kunci Darsono (65) yang merupakan warga Jalawastu, kemudian diarahkan agar berpakaian serba putih dan tidak dijahit.

Ritual Ngasa

Dijelaskan Sejarawan Brebes Wijanarto, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes, upacara adat turun-temurun itu sebagai perlambang terima kasih kepada Tuhan YME (Batara Windu Buana yang merupakan pencipta alam) atas segala nikmat yang diberikan.

Ngasa digelar setiap setahun sekali pada Selasa Kliwon mangsa kasanga/sembilan dalam kalender Jawa. Tahun ini Ngasa jatuh pada tanggal 15 Maret 2022 lalu.

Upacara Ngasa dipusatkan di Pesarean Gedong yang berada di dalam hutan yang dikeramatkan warga setempat. Yang menarik dalam upacara ini adalah perjamuan makan tanpa nasi dan tanpa lauk-pauk.

Makanannya yaitu berupa nasi jagung dicampur umbi-umbian atau dedaunan yang direbus. Makanan itu juga disajikan tanpa piring maupun gelas berbahan kaca. Warga menggunakan piring enamel, piring plastik, atau dedaunan. Pasalnya, seluruh perabotan yang terbuat dari bahan kaca dan keramik diharamkan.

"Ditilik dari sejarahnya, upacara Ngasa berasal dari budaya Hindu nenek moyang. Ini bisa dilihat dari pakaian adat peserta upacara serta bacaan puji-pujian yang diperuntukkan bagi dewa,” beber Wijanarto.

Ia juga menyebut bahwa Jalawastu sudah ada sejak masyarakat zaman Hindu-Buddha yang menganut agama Sunda Wiwitan. Hal itu dapat dilihat dari kemiripan dengan budaya Suku Baduy.

Tradisi Perang Centong

Sebelum masuknya agama islam, warga mayoritas menganut keyakinan Sunda Wiwitan, dengan sang pencipta yaitu Batara Windu Buana. Ajaran Sunda Wiwitan menggambarkan kasih sayang kepada makhluk hidup baik manusia, hewan, maupun tumbuhan.

Namun, seiring perjalanan waktu, ajaran islam masuk pada abad 15 sampai 16 dengan dibawa oleh Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga. Bukti akulturasi agama islam dengan hindu, sampai sekarang bisa kita lihat saat pagelaran Perang Centong atau perang dengan senjata berupa sendok nasi dari bahan kayu.

Perang ini menggambarkan dua jawara Jalawastu yaitu Gandasari (keyakinan lama) dan Gandawangi (keyakinan baru).

“Dalam perang centong ini Gandawangi atau keyakinan baru lah yang menang, namun tetap menjunjung keyakinan lama. Ini menggambarkan adat-istiadat saat ini yaitu islam kejawen,” sambungnya.

Bukti dari akulturasi kedua keyakinan sampai saat ini yaitu pelaksanaan Ngasa, dimana bacaan mantranya merupakan campuran antara doa islam dan Sunda Wiwitan.

Permainan Tradisional Rotan Edan/Heo Gelo

Sesuai namanya, permainan rotan edan yaitu 7 orang yang biasa disebut Jagabaya, memegang rotan sepanjang 2 meter yang telah diberi mantra oleh pawang.

Dengan diiringi musik dog-dog, para Jagabaya itu berusaha mengendalikan kekuatan rotan yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Puncak/keseruan permainan ini yaitu saat salah satu Jagabaya sudah tak mampu lagi menguasai rotan maka rotan akan menari-nari dan meronta. Jika ada pemain yang terjatuh maka permainan akan berakhir.

Menurut babinsa setempat, rotan gila merupakan salah satu perekat masyarakat Jalawastu, karena selain melatih fisik untuk kesehatan juga menguatkan solidaritas dan persatuan sebagai bekal untuk menghadapi berbagai persoalan hidup.

Heo Gelo adalah pelatihan bagi para generasi muda Jagabaya yang mempunyai tugas mengamankan adat dan tradisi Jalawastu (bela negara).

Ritual Tundan

Adalah ritual warga Jalawastu untuk mengusir hama tikus agar tidak merusak tanaman mereka.

Awalnya warga menangkap sepasang tikus, kemudian dibacakan mantra oleh pawing dan akhirnya sepasang tikus itu kemudian dilepaskan ke hutan dengan maksud tikus-tikus lainnya mengikuti pergi ke hutan.

Ritual Minta Hujan

Untuk tradisi mengundang hujan di Kampung Jalawastu yaitu warga melakukan ritual di Curug Rambukasang.

Warga membawa gayung, ember, dan tempat air lainnya, kemudian mereka mengguyur kepala desa mereka di curug tersebut dengan maksud agar langit menjadi mendung dan segera turun hujan.

Itulah berbagai mitos/keyakinan sejarah yang ada di Kampung Jalawastu yang masih terpelihara sampai dengan saat ini. Masyarakat yang masih setia mempertahankan warisan budaya walaupun di tengah zaman modern. (Aan/Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar