Jerih Payah Babinsa Brebes Sebagai Perajin Telur Asin Yang Kini Sejahtera - RADARDESA

Rabu, 26 Agustus 2020

Jerih Payah Babinsa Brebes Sebagai Perajin Telur Asin Yang Kini Sejahtera

Brebes, Radardesa.com – Jika mendengar nama Brebes, orang awam pasti terbersit tentang oleh-oleh khas berupa bawang merah dan telur asin yang berwarna warni, sehingga keduanya menjadi icon kabupaten paling utara di Provinsi Jawa Tengah dan berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi Jawa Barat ini.


Tak heran jika banyak warga Kabupaten Brebes, juga beternak bebek atau blengong (silangan itik dan entok) yang menghasilkan telur asin, sehingga para perajin dan penjual telur asin bertebaran dimana-mana khususnya di sepanjang Jalan Raya Pantura serta Jalur Tengah Brebes-Purwokerto.

Memanfaatkan potensi Brebes sebagai pintu masuknya Jawa Tengah, Pelda Saryo, anggota Koramil 03 Wanasari Kodim 0713 Brebes, dan istrinya, Ny. Sutati Saryo, menjadi perajin telur asin sejak tahun 2009 silam.

Diceritakan Pelda Saryo dalam Aksi Babinsa Kodim 0713 Brebes secara live di Radio Singosari 103.9 FM, bahwa awalnya merupakan usaha kecil-kecilan, yaitu hanya menjual telur mentah kepada para penjual martabak dan perajin telur asin. Rabu (26/8/2020).

“Dulu setiap hari saya menjual telur bebek mentah yang saya kumpulkan dari saudaranya,” ungkapnya kepada Rara Elsanum (32), penyiar Singosari FM dan pendengar setia radio tersebut.

Namun bukan tanpa kendala usaha dari Babinsa tersebut, berjalan beberapa bulan, tempat usaha pembuatan telur asin menolak telur bebek dagangannya karena stok mereka juga melimpah, padahal dirinya sudah terlanjur membeli kurang lebih 700 butir telur bebek.

Tak mau pasrah, inilah awal tercetus ide untuk membuat telur asin sendiri. Pasalnya, telur mentah tidak bagus jika disimpan dalam waktu lama.

“Upaya membuat telur asin pertama kali saya gagal karena berwarna kehitam-hitaman pada bagian kuning telur sehingga tidak laku di pasaran,” tegasnya.

Dikatakannya lanjut, dirinya tak menyerah dan tak malu bertanya untuk belajar sehingga akhirnya telur asin buatan mereka laku di pasaran, dan akhirnya dipatenkan dengan nama Telur Asin Tati.

Kini tak hanya di pasar tradisional, supermarket lokal, namun sudah mendapatkan pesanan dari luar daerah.

“Rata-rata sehari terjual 3.500 lebih butir telur asin, namun menjelang lebaran permintaan bisa melonjak sampai 25 ribu butir,” imbuhnya.

Saryo mengaku, berkat kerja keras dan keuletannya, masalah finansial yang dulu menghimpitnya mulai teratasi. Gajinya sebagai TNI kini diterima utuh oleh istri dan didepositokan untuk biaya sekolah kedua anaknya di perguruan tinggi kelak. (Utsm-Aan/Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar