Santri Ponpes Mahadut Tholabah Ikuti Pelatihan Tenun Sarung Gayor - RADARDESA

Kamis, 20 Februari 2020

Santri Ponpes Mahadut Tholabah Ikuti Pelatihan Tenun Sarung Gayor

Slawi, Radardesa.com -  Pengasuh pondok pesantren Ma,hadut Tholabah Babakan Lebaksiu KH. A. Nasichun Isa Mufti bersama sejumlah pengasuh Popes lain. Rabu siang  (19/2/2020) menyambut dan mendampingi kunjungan kerja Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka ( IKMA ) Gati Wibawaningsih. Hadir Bupati Tegal Hj. Umi Azizah Kadis Perindustrian Nur Ma,mu, KH. Chambali Ustman dan sejumlah tokoh agama lainnya

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) menggelar bimbingan teknis untuk wirausaha baru IKM tenun dan konveksi Sarung Goyor kepada para Santri. Diantara santri peserta pelatihan berasal dari Pondok Pesantren Ma,hadut Tholabah berjumlah tidak kurang dari 20 santri.


Kegiatan itu dilaksanakan selama 7 hari bertempat di Pondok Pesantren Dar-Alqur’an Al-Islam, Desa Yamansari, Lebaksiu, Kabupaten Tegal, mulai tanggal 19 Februari 2019.
Pesertanya para santri dan pengurus Pondok Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah, Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah dan Pondok Pesantren Dar-Alqur’an Al Islami, Lebaksiu, Kabupaten Tegal.
Masing-masing Ponpes mengirimkan 20 orang santri. Kementerian Perindustrian juga memfasilitasi mesin atau peralatan WUB IKM Pakaian Jadi Goyor.
Bimbingan teknis wirausaha ini karena adanya potensi pengembangan Sarung Goyor dengan kewirausahaan berbasis pondok pesantren di Kabupaten Tegal yang cukup tinggi.
“Kementerian Perindustrian mendorong terbentuknya perjanjian kerjasama antara Pondok Pesantren dengan Sampurnatex dan Sultontex selaku produsen kain tenun Goyor,”kata Dirjen IKMA Gati Wibawaningsih, usai membuka acara.
Ditambahkan Gati, pihak Pondok Pesantren akan menyediakan tenaga kerja dan fasilitas yang tersedia di dalam Pondok Pesantren. Sedangkan pihak Sampurnatex dan Sultontex akan memberikan fasilitas berupa bahan baku, mesin dan peralatan tenun, serta pemasaran hasil produksi santri pondok pesantren.
“Program kami ini kan pertumbuhan usaha baru. Supaya ekonomi cepat jalan dan memberikan bekal santri pria dan santri putri ini untuk nanti masuk ke masyarakat sudah punya bekal apa yang dilakukan dalam bidang ekonomi,” ungkap Gati.
Gati menegaskan, pondok pesantren sendiri juga merupakan salah satu pasar Sarung Tenun Goyor buatan para Santri dan Santriwati. “Kalau ini pasarnya udah kita nggak bantu karena sudah langsung ini. Pasar sudah jelas, pelatihan sudah jelas, mesin peralatan juga sudah ada,” tegasnya.
Gati memaparkan, data Kementerian Agama, jumlah pondok pesantren di Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 28.194 pondok dengan total lebih dari 4 juta santri. Persebaran pondok pesantren tersebut (79%) berfokus di 4 provinsi yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Karakter Sarung Goyor memiliki motif tenun khas dan tekstur halus yang dihasilkan dari ketelitian pada saat proses penenunan.
“Sarung Goyor banyak diminati oleh pasar menengah ke atas dan konsumen mancanegara, oleh karena itu potensi pengembangan Sarung Goyor ini tidak hanya terbatas pada proses penenunan saja, tetapi juga pada produk pakaian jadi,” ungkap Gati
Bupati Tegal, Umi Azizah, mengatakan , bimbingan teknis tenun sarung Goyor ini akan memaksimalkan sentra tenun di Kabupaten Tegal yang potensinya sangat bagus. Namun diakui Umi, selama ini industri sarung tenun di Kabupaten Tegal terkendala ketersediaan sumber daya manusia.
“Hanya kendalanya memang ketersediaan SDM. Sehingga ini regenarasi SDM ini sangat perlu. Anak-anak muda kita dibekali cara menenun. Sehingga nanti dapat berlangsung bahkan berkembang dengan lebih baik lagi. Karena pasarnya itu sudah jelas ada,” ujar Umi.(Puskapik/Dasuki)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar