Hari Kebangkitan Nasional, Membangkitkan semangat untuk Bersatu - RADARDESA

Selasa, 21 Mei 2019

Hari Kebangkitan Nasional, Membangkitkan semangat untuk Bersatu

Tegal – Melalui Hari Kebangkitan Nasional, membangkitkan semangat untuk bersatu, bertempat di Halaman Pendopo Ki Gede Sebayu Balaikota Tegal Jl. Ki Gede Sebayu Kel. Mangkukusuman Kec. Tegal Timur Kota Tegal, telah dilaksanakan Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (HARKITNAS) Ke - 111, Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) Ke - 130, Hari Otonomi Daerah (OTDA) Ke - XXIII dan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia (HKHD) Ke - Tahun 2019 Tingkat Kota Tegal. Senin (20/5)

Upacara tersebut di pimpin langsung oleh Walikota Tegal H. Dedy Yon Supriyono SE M.M Perwira Upacara : Kapolsek Tegal Timur Kompol Agus Endro SH. MH, Komandan Upacara : Agus Budi Yuwono SH MH dan Pembaca Pembukaan UUD 1945 : Kepala BKPPD Kota Tegal : Drs. Ikrar Yuswan Appendi MM.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Walikota Tegal H. Dedy Yon Supriyono SE M.M, Wakil Walikota Tegal M. Jumadi ST.M.M, Kapolres Tegal Kota diwakili oleh Wakapolres Tegal Kota Kompol Davis, Dandim 0712/Tegal Letkol Inf Richard Arnold YS, Danlanal Tegal Letkol Laut (P) Agus Haryanto, S.E., M.Tr.Hanla,  Kajari Tegal Diwakili Pasi Intel Kejaksaan Negeri Kota Tegal Wimpi Wahon SH, Ketua Pengadilan Kota Panitera Muda Pidana Pengadilan Negeri Syahroni SH. S.Ag. MH, Pj. Sekda Kota Tegal Drs. Imam Badarudin, Para Asisten, Staf Ahli Setda Kota Tegal, Para Kepala OPD Setda Kota Tegal, Para Danramil se Kota Tegal, Camat dan Lurah se Kota Tegal.

Dalam sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia yang di bacakan oleh Walikota Tegal menyampaikan dalam naskah Sumpah Palapa yang ditemukan pada Kitab Pararaton tertulis: Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa"

Memang ada banyak versi tafsiran atas teks tersebut, terutama tentang apa yang dimaksud dengan "amukti palapa". Namun meski sampai saat ini masih belum diperoleh pengetahuan yang pasti, umumnya para ahli sepakat bahwa amukti palapa berarti sesuatu yang berkaitan dengan kesenangan diri sang Mahapatih Gajah Mada. Artinya, ia tak akan menghentikan mati raga atau puasanya sebelum mempersatukan Nusantara.Sumpah Palapa tersebut merupakan embrio paling kuat bagi jalinan persatuan Indonesia. Wilayah Nusantara yang disatukan oleh Gajah Mada telah menjadi acuan bagi perjuangan berat para pahlawan nasional kita untuk mengikat wilayah Indonesia seperti yang secara de jure terwujud dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-111, 20 Mei 2019, kali ini sangat relevan jika dimaknai dengan teks Sumpah Palapa tersebut. Kita berada dalam situasi pasca-pesta demokrasi yang menguras energi dan emosi sebagian besar masyarakat kita. 

Kita mengaspirasikan pilihan yang berbeda-beda dalam pemilu, namun semua pilihan pasti kita niatkan untuk kebaikan bangsa. Oleh sebab itu tak ada maslahatnya jika dipertajam dan justru mengoyak persatuan sosial kita.

Alhamdulillah, sampai sekarang ini tahap-tahap pemilihan presiden dan wakil presiden serta anggota legislatif berlangsung dengan lancar. Kelancaran ini juga berkat pengorbanan banyak saudara-saudara kita yang menjadi anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara, bahkan berupa pengorbanan nyawa. Sungguh mulia perjuangan mereka untuk menjaga kelancaran dan kejujuran proses pemilu ini. Sambil mengirim doa bagi ketenangan jiwa para pahlawan demokrasi tersebut, alangkah eloknya jika kita wujudkan ucapan terima kasih atas pengorbanan mereka dengan bersama-sama menunggu secara tertib ketetapan penghitungan suara resmi yang akan diumumkan oleh lembaga yang ditunjuk oleh undang-undang, dalam waktu yang tidak lama lagi.

Saudari-saudara sebangsa dan setanah-air, Telah lebih satu abad kita menorehkan catatan penghormatan dan penghargaan atas kemajemukan bangsa yang ditandai dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo. Dalam kondisi kemajemukan bahasa, suku, agama, kebudayaan, ditingkah bentang geografis yang merupakan salah satu yang paling ekstrem di dunia, kita membuktikan bahwa  mampu menjaga persatuan sampai detik ini. Oleh sebab itu, tak diragukan lagi bahwa kita pasti akan mampu segera kembali bersatu dari kerenggangan perbedaan pendapat, dari keterbelahan sosial, dengan memikirkan kepentingan yang lebih luas bagi anak cucu bangsa ini, yaitu persatuan Indonesia.

Apalagi peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini juga dilangsungkan dalam suasana bulan Ramadan. Bagi umat muslim, bulan suci ini menuntun kita untuk mengejar pahala dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah SWT seperti permusuhan dan kebencian, apalagi penyebaran kebohongan dan fitnah. Hingga pada akhirnya, pada ujung bulan Ramadan nanti, kita bisa seperti Mahapatih Gadjah Mada, mengakhiri puasa dengan hati dan lingkungan yang bersih berkat hubungan yang kembali fitri dengan saudara-saudara di sekitar kita. Dengan semua harapan tersebut, kiranya sangat relevan apabila peringatan Hari Kebangkitan Nasional, disematkan tema "Bangkit Untuk Bersatu". Kebangkitan untuk Persatuan.(Nurpen)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar